81.23 F
Jakarta
December 4, 2022
Kontra

Tari Soya-Soya Terinspirasi Dari Peristiwa Penyerbuan Tentara Ternate ke Benteng Kastela

Kontra Maluku UtaraTari Soya-Soya berasal dari Maluku Utara. Tari tradisional ini dipercaya telah ada sejak zaman Sultan Baabullah memimpin Kesultanan Ternate, sekitar tahun 1570 hingga 1583. Tarian ini diciptakan oleh seniman Kesultanan Ternate untuk mengabadikan peristiwa sejarah yang melatar belakanginya. Tari Soya-Soya sering dibawakan di kawasan Keraton Kesultanan dengan iringan musik tradisional.

Asal usul Tari Soya-Soya Tarian ini terinspirasi dari peristiwa penyerbuan tentara Ternate ke Benteng Kastela atau Benteng Nostra Senora del Rosario dari kekuasaan Portugis, pada 25 Februari 1970. Penyerbuan ini dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Baabullah memimpin Kesultanan Ternate. Dilansir dari situs Warisan Budaya Tak Benda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tujuan utama penyerbuan ini ialah untuk menjemput jenazah Sultan Khairun, ayah Sultan Baabullah yang telah dibunuh Portugis.

 

Peristiwa penyerbuan ini kemudian diabadikan dalam seni tari tradisional bertemakan perang. Hingga saat ini Tari Soya-Soya masih sering ditampilkan dalam acara resmi, baik untuk penyambutan tamu atau lainnya. Makna Tari Soya-Soya Menurut Syahril Muhammad dan Rustan Hasim dalam jurnal Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Lokal dalam Mewujudkan Cinta Tanah Air melalui Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Negeri Kota Ternate (2020), tarian ini mengandung makna ungkapan kebanggaan rakyat Ternate, karena keberhasilan para pejuang dalam mengusir penjajah dari tanah mereka di masa lampau. Mengutip dari Encyclopedia DKI Jakarta, soya-soya berarti pantang menyerah atau penjemputan. Tari tradisional ini memiliki nilai kepahlawanan yang sangat tinggi.

Selain itu, tarian ini juga menjadi identitas rakyat Kesultanan Ternate yang selalu berjuang dan pantang menyerah. Gerak Tari Soya-Soya Tari tradisional ini dibawakan oleh pria dengan jumlah ganjil, biasanya minimal tiga dan tidak ada batas maksimum penarinya.

Jumlah ganjil ini menunjukkan jumlah pasukan ganjil akan  berubah jadi genap jika ditambah dengan seorang komandan atau pemimpin pasukan. Gerak Tari Soya-Soya dibawakan secara semangat, ditunjukkan dengan gerakan kaki yang cepat. Oleh karena tari ini merupakan tarian perang, mayoritas gerakannya menyerupai teknik berperang, seperti gerakan kuda-kuda, menghindar, menangkis, menyerang dan lainnya.

Busana dan properti Tari Soya-Soya Para penari biasanya tidak mengenakan pakaian bagian atas. Busana yang dikenakan hanyalah celana panjang, kain penutup dada yang melingkar di leher, selempang kain warna merah, ikat kepala dan kain pengikat di lengan. Seiring berjalannya waktu, busana tarian ini juga turut berkembang. Misalnya ada penari yang mengenakan pakaian bagian atas, celana panjang dengan sambungan beberapa warna, dan lain-lain. Untuk propertinya menggunakan pedang atau ngana-ngana yang terbuat dari bambu, perisai kayu, dan menggunakan tifa atau gendang, gong dan gono sebagai instrumen pengiring tarian ini. (sumber : kompas)