81.23 F
Jakarta
December 4, 2022
Kontra

KETUM GPHN RI: Terdakwa Kasus Korupsi BJB TANGERANG Memberi Keterangan Bohong

Kontra Tangerang – Sidang perkara tindak pidana korupsi BJB Cabang Tangerang kembali digelar dengan agenda sidang para terdakwa saling bersaksi di Pengadilan Negeri Serang, Banten, Rabu (28/04/2021).

Setelah kedua terdakwa diambil sumpahnya barulah para terdakwa menerangkan di hadapan ketua Majelis Hakim. Anehnya, salah satu terdakwa sebagai debitur malah mengatakan bahwa akad kredit BJB cabang Tangerang atas permintaan kedua saksi yaitu Djodi dan istrinya Djuanningsih, dengan alasan untuk membuat koperasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang.

” Uang dari pencairan akad kredit kita setorkan ke Djuanningsih dan Djodi,” kata terdakwa Dera.

Menariknya lagi, Kunto Aji terdakwa kedua eks Kepala Cabang BJB, memberikan keterangan yang berbelit – belit  di hadapan Majelis Hakim. Keterangan dari terdakwa Dera yang sudah jelas sebagai Debitur menuduh Djodi dan Djuanningsih adalah pihak yang mengajukan akad kredit tapi, terdakwa kedua mengatakan bahwa debiturnya itu adalah  Dera sendiri.

Selepas sidang nampak Ketum GPHN RI, Madun Hariyadi yang selalu mengikuti dari awal jalannya sidang, Madun pun angkat bicara.
“keterangan kedua terdakwa dera dan kunto aji adalah tidak benar dan merupakan keterangan palsu,
sepertinya terdakwa ini tidak sadar bahwa keterangan – keterangan palsu yang disampaikan di ruang persidangan itu ada konskuensi hukumnya,” ucap Madun.

Madun menegaskan di hadapan para awak media, dirinya siap dipanggil sebagai saksi.
“Perlu kawan – kawan media ketahui, bahwa keterangan kedua terdakwa Dera dan Kunto Aji adalah tidak benar dan merupakan keterangan palsu, saya siap dipanggil sebagai saksi jika JPU berkenan, saya akan membuka mata Hakim jika ada kesempatan untuk bisa hadir di ruang sidang.
Saya sebagai pegiat anti korupsi akan mendukung  JPU Kejati Banten menuntut terdakwa dengan tuntutan maksimal hukuman.”pungkasnya.

Menurut keterangan saksi Djuanningsih dalam kasus ini ada beberapa orang menjadi korban dalam.

“Setau saya yang jadi korban itu saya, Pak Dedi, suami saya Djodi, Pak Unep, Pak Edi, Pak Mahmud Kepala Dinas Pendidikan Garut, Gugum mantan karyawannya Dera yang dipinjam namanya di kasus Purwakarta, yang beli barang ke Pak Edi tapi dibatalin,” tuturnya. (Drm)

SIMAK JUGA :  Tidak ada kerugian negara perkara Distan kerawang. GPHN-RI: Jaksa Agung jangan tutup mata.

Related posts

Ahli Hukum Universitas Trisakti: kasus korupsi DAM Parit Aneh terdakwanya Cuma 1 Orang

Admin Kontra

PN Tangerang Diminta Segera Eksekusi Lahan Padang Golf Summarecon

Admin Kontra

Ketua Pengadilan Serang Lakukan Pengecekan Kendaraan Dinas 

Admin Kontra